BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Beberapa
waktu yang lalu semua media di tanah air
gencar memberitakan krisis air bersih yang meluas di sejumlah daerah. Kemarau
telah membuat sebagian wilayah Indonesia dilanda kekeringan, yang kemudian
berdampak krisis air. Diberitakan, apabila sampai awal Oktober belum juga turun
hujan, enam dari 16 waduk utama di
Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi terancam kekeringan. Di daerah lain puluhan
juta orang terutama kaum wanita harus berjalan kaki di bawah terik matahari hanya
untuk mendapatkan air kotor yang akan meracuni mereka serta keluarga mereka.
Dewasa ini air merupakan salah satu sumber alam yang
mulai terasa pengaruhnya pada usaha memperluas kegiatan pertanian dan industri
di berbagai tempat di dunia. Selain itu
timbul beberapa masalah yang berhubungan dengan air seperti banjir, erosi,
kekeringan dan pencemaran lingkungan yang pada akhirnya menurunkan kualitas
hidup manusia.
Secara alamiah sumber-sumber air merupakan kekayaan
alam yang dapat diperbaharui dan yang mempunyai daya regenerasi yaitu yang
selalu dalam sirkulasi dan lahir kembali mengikuti suatu daur hidrologi. Jadi
air dari sumbernya mengalir ke laut. Air selalu berada dalam daur hidrologi
sehingga relatif jumlahnya tetap. Namun pada kenyataan yang terjadi krisis air
di mana-mana karena ketersedian air terbatas, mengapa demikian?
Penduduk yang terus berkembang dan kemakmuran yang
meningkat menimbulkan tekanan pada ketersedian air setempat. Pesatnya
pertumbuhan penduduk kota membawa konsekuensi makin beratnya beban negara dalam
menyediakan berbagai kebutuhan sosial dasar penduduk. Salah satu di antaranya
adalah kebutuhan air bersih dan sanitasi. Banyak negara di dunia, terutama
negara berkembang, tidak mampu menyediakan kebutuhan hidup paling hakiki
tersebut. Saat ini terdapat 827,6 juta orang tinggal di kawasan kumuh tanpa
akses air minum dan sanitasi yang memadai. Kondisi buruk ini memicu
berjangkitnya berbagai macam penyakit.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melaju cukup
signifikan tidak dibarengi dengan daya dukung lingkungan. Berbagai masalah
seperti perubahan iklim hingga kerusakan lingkungan yang membahayakan ekosistem
dapat berimbas pada terjadinya krisis air dan pangan. Hal tersebut diungkapkan
oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraeni, dalam rapat
regional pengelolaan lingkungan hidup daerah wilayah barat Indonesia di Hotel
Kapuas Palace, Pontianak, Kamis 7 Maret 2013.
"Di beberapa negara, karena minimnya lahan
pertanian dan sedikitnya pangan, pada 2025 diperkirakan terjadi krisis air,
karena sulit didapat air bersih untuk minum. Perubahan iklim yang ekstrem akan
mulai terasa akibat dari ketidakseimbangan lingkungan," kata Diah.
Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh
Kementerian Lingkungan Hidup, indeks kualitas lingkungan hidup di Indonesia
baru mencapai 61,07 persen ada 2010. Jumlah ini masih di bawah indeks kualitas
lingkungan hidup dunia yang mencapai 80-90 persen pada 2010.
Untuk mengejar ketertinggalan itu, menurut Diah,
pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan lingkungan
hidup, baik peraturan perundangan-undangan maupun lainnya.. Ketentuan itu
menegaskan bahwa pengendalian lingkungan hidup merupakan urusan wajib yang
menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi, dan kabupaten/kota.
Dapatlah dimengerti bahwa air merupakan benda alam
yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan sehingga setiap usaha untuk
mengatasi masalah air dan peningkatan pendayagunaan sumber alam seperti sumber
air diperlukan penelitian-penelitian yang mendalam dan terintegrasi dari
berbagai bidang ilmu pengetahuan dan memerlukan keputusan atau perencanaan yang
lebih mantap
Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan Penulisan
Kajian Literatur Pengelolaan Air Demi Kelestarian Sumberdaya Air Guna Menghindari
Krisis Air di Indonesia.
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Sumber Air
Sumber daya air adalah sumber
daya berupa air yang berguna atau
potensial bagi manusia. Kegunaan air
meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga,
rekreasi dan aktivitas lingkungan . sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia
membutuhkan air tawar.
97% air di bumi
adalah air
asin, dan hanya 3% berupa air tawar
yang lebih dari 2 per tiga bagiannya berada dalam bentuk es di glasier
dan es kutub. Air tawar yang
tidak membeku dapat ditemukan terutama di dalam tanah berupa air
tanah dan hanya sebagian kecil
berada di atas permukaan tanah dan di udara.
Air tawar adalah sumber
daya terbarukan, meski suplai air
bersih terus berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai. di beberapa bagian di dunia dan populasi dunia terus meningkat yang mengakibatkan peningkatan permintaan
terhadap air bersih. Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan
air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan
lebih dari setengah lahan basah bersama dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.
Air permukaan adalah air yang terdapat di sungai, danau,
atau rawa air tawar. Air
permukaan secara alami dapat tergantikan dengan presipitasi dan
secara alami menghilang akibat aliran menuju lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.
Meski satu-satunya sumber alami bagi perairan
permukaan hanya presipitasi dalam area tangkapan
air, total
kuantitas air dalam sistem dalam suatu waktu bergantung pada banyak faktor.
Faktor-faktor tersebut termasuk kapasitas danau, rawa, dan reservoir buatan,
permeabilitas tanah di
bawah reservoir, karakteristik aliran pada area tangkapan air, ketepatan waktu
presipitasi dan rata-rata evaporasi setempat. Semua faktor tersebut juga
memengaruhi besarnya air yang menghilang dari aliran permukaan.
Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan
kadang-kadang menghancurkan faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali
meningkatkan kapasitas reservoir total dengan melakukan pembangunan reservoir
buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan basah. Manusia juga sering
meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan pembuatan
sauran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi .
Es yang membeku di kutub dan glasier berpotensi
untuk dijadikan sumber air tawar karena dua per tiga air tawar dunia berada
dalam bentuk es. Beberapa skema telah diajukan untuk menjadikan gunung es di kutub sebagai
sumber air, namun hingga saat ini hal itu hanya sekedar rencana. Aliran glasier saat ini dikatakan sebagai
salah satu perairan permukaan.
Himalaya, "Atap Dunia"
mengandung glasier dan es dalam jumlah besar di luar wilayah kutub, dan menjadi
sumber dari sepuluh sungai besar di Asia yang menghidupi miliaran manusia.
Masalah yang terjadi saat ini adalah peningkatan temperatur dunia yang cukup
cepat, Nepal
saat ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,6 derajat Celcius sejak
sepuluh tahun lalu, sementara dunia mengalami peningkatan sebesar 0,7 sejak
ratusan tahun yang lalu.
2.2. Kuantitas Air
Kuantitas total dari air yang tersedia pada suatu
waktu adalah hal yang penting. Sebagian manusia membutuhkan air pada saat-saat
tertentu saja. Misalnya petani membutuhkan banyak air ketika akan menanam padi
dan membutuhkan lebih sedikit air ketika menanam palawija.
Untuk mensuplai petani dengan air, sistem air permukaan membutuhkan kapasitas
penyimpanan yang besar untuk mengumpulkan air sepanjang tahun dan melepaskannya
pada suatu waktu tertentu. Sedangkan penggunaan air lainnya membutuhkan air
sepanjang waktu, misalnya pembangkit
listrik yang membutuhkan air untuk pendinginan,
atau pembangkit listrik tenaga air. Untuk mensuplainya, sistem
perairan permukaan harus terisi ketika aliran arus rata-rata lebih rendah dari
kebutuhan pembangkit listrik.
Perairan permukaan alami dapat ditambahkan dengan
mengambil air permukaan dari area tangkapan hujan lainnya dengan kanal atau sistem perpipaan.
Dapat juga ditambahkan secara buatan dengan cara lainnya, namun biasanya
jumlahnya diabaikan karena terlalu kecil.
Manusia dapat menyebabkan hilangnya sumber air
permukaan dengan menjadikannya tidak lagi berguna, misalnya dengan cara polusi. Brazil
adalah negara yang diperkirakan memiliki suplai air tawar terbesar di dunia,
diikuti oleh Rusia, Kanada, dan Indonesia.
Total volum air yang dialirkan dari daratan menuju
lautan dapat berupa kombinasi aliran air yang dapat terlihat dan aliran yang
cukup besar di bawah permukaan melalui bebatuan dan lapisan bawah tanah yang disebut dengan zona hiporeik (hyporheic zone). Untuk
beberapa sungai di lembah-lembah yang besar, komponen aliran yang "tidak
terlihat" mungkin cukup besar dan melebihi aliran permukaan. Zona hiporeik
seringkali membentuk hubungan dinamis antara perairan permukaan dengan perairan
subpermukaan dengan saling memberi ketika salah satu bagian kekurangan air. Hal
ini terutama terjadi di area karst di mana lubang tempat terbentuknya hubungan antara sungai bawah
tanah dan sungai permukaan cukup banyak.
2.3.
Siklus Air
Daur hidrologi sering juga dipakai istilah water cycle atau
siklus air. Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke
atmosfer, dari atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti
lain siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan
bumi dari suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.
Gambar 2. Siklus Air
Air naik ke udara
dari permukaan laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam
bentuk uap air atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan
dipanaskan oleh radiasi tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga
cukup tinggi/dingin untuk terjadi kondensasi.
Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut melengkapi siklus air.
Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Sebagian dari air tanah dihisap oleh tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan sebagainya (surface detention), ada juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut ( surface run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu:
1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.

Gambar 3 Siklus Air Pendek
Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut melengkapi siklus air.
Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Sebagian dari air tanah dihisap oleh tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan sebagainya (surface detention), ada juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut ( surface run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu:
1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.

Gambar 3 Siklus Air Pendek
2. Siklus Sedang : Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air.

Gambar 4. Siklus Air Panjang
3. Siklus Panjang : Air laut menguap,
setelah menjadi awan melalui proses kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke
tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah hujan salju atau es di
pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkah-bongkah es mengendap di puncak
gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang lebih rendah, mencair
terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai-sungai kembali ke laut.

Gambar 5. Siklus Air

Gambar 5. Siklus Air
Unsur-unsur utama dalam siklus
hidrologi :
Evaporasi: penguapan dari badan air secara langsung
Transpirasi: penguapan air yang terkandung dalam tumbuhan
Respirasi: penguapan air dari tubuh hewan dan manusia
Evapotranspirasi: perpaduan evaporasi dan transpirasi
Kondensasi: proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
Presipitasi: segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
Infiltrasi: air yang jatuh ke permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
Perkolasi: air yang meresap terus sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater
Run off: air yang mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut.
Evaporasi: penguapan dari badan air secara langsung
Transpirasi: penguapan air yang terkandung dalam tumbuhan
Respirasi: penguapan air dari tubuh hewan dan manusia
Evapotranspirasi: perpaduan evaporasi dan transpirasi
Kondensasi: proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
Presipitasi: segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
Infiltrasi: air yang jatuh ke permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
Perkolasi: air yang meresap terus sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater
Run off: air yang mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut.
2.4.
Penggunaan Air
Kebutuhan manusia akan sumberdaya air menjadi sangat
nyata bila dikaitkan dengan 4 hal yaitu (1) pertambahan penduduk, (2) kebutuhan
pangan, (3) peningkatan industrialisasi dan (4) perlindungan ekosistem terhadap
teknologi.
Diketahui bahwa jumlah air di bumi tetap.
Perubahannya hanya dalam bentuk dalam mengikuti siklus hidrologi yang berputar
sepanjang masa (air di daratan – air laut – uap air – hujan). Padahal penduduk
dunia selalu bertambah dan kehidupannya semakin maju pula, sehingga pemakaian
air semakin bertambah banyak. Penduduk yang berkembang cepat, cepat pula
memerosotkan persedian air per kapita per tahun. Lebih lebih kalau perkembangan
itu terjadi di tempat sumber airnya kecil seperti Pulau Jawa
Air yang ketersediannya terbatas pada umumnya
digunakan manusia untuk (1) keperluan domestik, (2) pertanian, (3) industry,
(4) perikanan, (5) pembangkit listrik tenaga air, (6) navigasi dan (7)
rekreasi.
2.5.
Beberapa Kasus Krisis Air di Indonesia
Warga
konsumsi sisa air sungai, kekeringan akibat kemarau panjang, mulai dirasakan warga di
sejumlah daerah. Akibat kemarau panjang, warga di Tegal, Jawa Tengah, terpaksa
mengkonsumsi sisa air sungai yang keruh. Bahkan untuk mendapatkan air tersebut,
warga harus menempuh jarak puluhan kilometer.
Kemarau yang berkepanjangan membuat krisis air terus
meluas. Di Situbondo, Jawa Timur, warga disalah satu kampung di daerah ini
terpaksa harus mengkonsumsi air sungai yang keruh dan mengandung belerang.
Kondisi ini sangat memprihatinkan akibat sumur mereka satu-satunya mengering
dan mulai tercemar.
Kekeringan yang melanda disejumlah wilayah akibat
kemarau panjang hingga Selasa terus meluas. Bahkan ratusan warga di Cibabat
kota Cimahi, Jawa Barat harus berjuang mengantri sejak pagi hingga malam hari
hanya untuk mendapatkan jatah 5 ember air yang bersumber dari jetpam bantuan
pemerintah setempat.
Di Bondowoso, Jawa Timur krisis air bersih paling
dirasakan warga yang tinggal didaerah pegunungan. Bukan cuma sulit untuk
kebutuhan sehari-hari, lahan tanaman dan ternak mereka pun ikut menderita.
Kemarau panjang menyebabkan debit air di waduk
Juanda Jaliluhur Purwakarta Jawa Barat menyusut hingga dibawah normal. Kondisi
ini membuat pengelola waduk Jatiluhur mengalami kesulitan untuk membagikan air
bagi para petani, termasuk kiriman untuk air baku minum di Jakarta.
Gambar
6 dan 7. Krisis Air Di Indonesia
Kekeringan melanda sejumlah daerah. Akibat kemarau
panjang warga Banyumas terpaksa berebut air untuk keperluan sehari-hari.
Sementara warga Nganjuk terpaksa memakai air di sawah untuk memenuhi
kebutuhannya. Misalnya Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Sukoharjo,
Jawa Tengah semakin parah. Warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih,
karena dalam tiga hari terakhir seluruh sumber air sudah kering. Bantuan air
bersih pun menjadi rebutan warga.
2.6. Krisis
Air
Pengelolaan sumber daya
air telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air. Pasal 2 undang-undang itu menegaskan bahwa sumber daya air dikelola
berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan
keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas.
Selanjutnya, Pasal 4 dan 5 menegaskan bahwa sumber daya air memiliki fungsi
sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan
secara selaras. Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi
kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup yang sehat,
bersih, dan produktif.
Namun, seiring dengan bergulirnya era reformasi dan
otonomi daerah, makin banyak pihak yang berpikiran pragmatis dalam mengelola
sumber daya air di daerah. Saat ini telah muncul banyak gugatan terhadap
pengelolaan sumber air yang sudah berlangsung ratusan tahun dan ujung-ujungnya
adalah tuntutan pembagian uang. Kondisi seperti ini harus disikapi dengan
serius, terutama bagi daerah yang secara alami tidak memiliki sumber daya air
di wilayah sendiri.
Konflik kepentingan pengelolaan sumber daya air akan
selalu terjadi di berbagai sektor kehidupan, antara lain sektor pertanian, air
bersih/air minum, industri, serta keperluan rumah tangga. Pengambilan air untuk
pemenuhan air bersih perkotaan dari sumber air yang semula untuk pertanian
sangat berpotensi menimbulkan konflik.
Apalagi jika pengurangan debit itu menurunkan indeks
pertanaman (cropping index) dan mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu,
pemanfaatan air dengan prinsip berbagi air secara proporsional (proportional
water sharing) harus dilakukan sejak dini. Dalam prinsip ini, pengelolaan air
memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk, kontribusi sektor pertanian,
industri, air minum, air untuk kepentingan sanitasi, serta potensi lestari
sumber daya air.
Pemenuhan air bersih dan sanitasi merupakan domain
negara/pemerintah. Pada umumnya kota-kota besar di Indonesia saat ini terlihat
kedodoran dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi warganya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, saat ini baru mampu memasok 62
persen dari kebutuhan yang ada. Dari angka 62 persen itu pun banyak yang belum
memenuhi standar pelayanan minimal.
2.6.
Penyebab Krisis Air
1. Stres Air
Konsep stres air dan krisis air sesungguhnya
sangatlah sederhana. Menurut World Business
Council for Sustainable Development, hal ini adalah situasi di mana
tidak cukup air untuk semua kebutuhan, baik itu untuk pertanian, industri, atau
yang lainnya. Mendefinisikan masalah ini dalam bentuk per kapita lebih rumit,
namun mendatangkan asumsi yang lebih baik untuk penggunaan air dan
penghematannya. Namun telah diperkirakan bahwa ketika ketersediaan air yang
dapat diperbarui di bawah 1.700 meter kubik per kapita per tahun, maka negara
tersebut akan mengalami stres air secara periodik, di bawah 1.000 maka
kelangkaan air akan terjadi dan merintangi pertumbuhan ekonomi dan kesehatan manusia.
2. Peningkatan Populasi
Pada tahun 2000, dunia berpopulasi 6,2 miliar. PBB
memperkirakan bahwa pada tahun 2050, dunia akan mendapatkan tambahan penduduk
sekitar 3,5 miliar dengan pertumbuhan terbesar ada di negara-negara berkembang
yang telah mengalami stres air. Hal itu akan menyebabkan peningkatan permintaan
air kecuali negara melakukan konservasi air dan mendaur ulang sumber daya yang
vital ini.
3. Peningkatan Kesejahteraan
Tingkat kesejahteraan terus meningkat terutama di
negara dengan dua populasi terbanyak di dunia, yaitu Cina dan India. Namun,
peningkatan kesejahteraan ini berarti juga peningkatan penggunaan air: air
bersih untuk kebutuhan dasar dan sanitasi, berkebun dan membersihkan kendaraan,
kolam renang pribadi, dan sebagainya.
4. Ekspansi Bisnis
Aktivitas bisnis berkisar dari industri hingga jasa
seperti pariwisata dan hiburan terus berkembang dengan
cepat. Ekspansi ini membutuhkan peningkatan pelayanan terhadap kebutuhan air
seperti suplai dan sanitasi, yang memicu tekanan terhadap sumber daya air dan
ekosistem alam.
5. Perubahan Iklim
Perubahan iklim dapat memberikan efek yang
signifikan terhadap sumber daya air di seluruh dunia karena hubungan yang erat
antara iklim dan daur
hidrologi. Peningkatan temperatur akan
meningkatkan penguapan dan memicu peningkatan presipitasi. Secara
keseluruhan akan terjadi peningkatan suplai air tawar dunia. Banjir dan kekeringan akan
terjadi lebih sering di beberapa wilayah dalam waktu yang berbeda-beda, akan
terjadi perubahan yang drastis pada hujan
salju dan proses pelelehan salju di pegunungan akan meningkat.
Temperatur yang meningkat juga akan memengaruhi kualitas air, namun belum
dipahami dengan baik. Dampak yang paling mungkin adalah eutrofikasi, yaitu
peningkatan populasi tumbuhan air (alga, eceng
gondok, dll) secara cepat. Perubahan iklim juga akan
meningkatkan permintaan suplai air untuk irigasi, dan mungkin air untuk kolam
renang.
6. Hilangnya Aquifer
Akibat dari meningkatnya populasi manusia, kompetisi
untuk mendapatkan air meningkat sehingga banyak aquifer di seluruh dunia
menjadi habis. Hal ini terjadi akibat konsumsi langsung manusia seperti irigasi
pertanian menggunakan air tanah. Jutaan pompa di
seluruh dunia dalam berbagai ukuran saat ini sedang mengambil air tanah. Irigasi
di wilayah kering seperti di utara Cina dan India disuplai oleh air tanah, dan
diambil dalam jumlah yang tidak semestinya. Kota-kota besar juga telah
mengalami kehilangan lapisan aquifer dan mengakibatkan lapisan tanahnya turun
antara 10 hingga 50 meter seperti yang terjadi di Mexico
City, Bangkok, Manila, Beijing, Madras, Jakarta dan Shanghai.
7. Polusi dan Proteksi Air
Polusi air adalah satu dari sekian
kekhawatiran utama dunia saat ini. Pemerintahan di berbagai negara telah
berusaha mencari solusi untuk mengurangi masalah ini. Banyak polutan
mengancam suplai air, dan di banyak tempat terutama di negara yang belum
berkembang, hal ini disebabkan pembuangan limbah secara
langsung ke perairan alam. Metode ini umum terjadi di negara yang belum
berkembang, namun juga banyak terjadi di negara yang sedang berkembang seperti Cina, India, dan Iran.
Sampah, limbah,
dan bahkan polutan beracun dibuang ke perairan. Meski limbah tersebut diolah
terlebih dahulu, masalah tetap ada. Sisa olahan limbah berbentuk lumpur mungkin
akan ditempatkan di lahan pembuangan sampah, dibakar di insinerator, atau
dibuang ke laut. Sumber
polutan lainnya seperti air sisa irigasi yang mengandung berbagai macam pupuk
kimia dan bahan
organik tanaman pertanian juga
mengancam ekosistem
perairan, bersama dengan aliran air hujan di
perkotaan dan limbah kimia yang dibuang oleh industri.
8. Konflik Perebutan Air
Satu-satunya konflik yang
tercatat terjadi akibat perebutan air terjadi pada tahun 2500 SM antara wilayah
Lagash dan Umma di
Sumeria. Ketika
kelangkaan air menyebabkan ketegangan
politik, hal ini dapat dikatakan sebagai stres air. Stres air
telah memicu konflik lokal dan regional.
Stres air juga dapat menyebabkan konflik dan ketegangan
politik meski penyebabnya bukan secara langsung disebabkan oleh air. Reduksi
secara bertahap terhadap kualitas dan kuantitas air tawar dapat menambah
ketidakstabilan suatu wilayah dengan berkurangnya kesehatan suatu populasi,
menghalangi pertumbuhan ekonomi, dan dapat menyebabkan konfik yang lebih besar.
Konflik dan ketegangan
terhadap air seringkali terjadi di perbatasan antar negara. Di beberapa area
seperti wilayah dataran rendah Sungai
Kuning di Cina atau Sungai Chao Phraya di Thailand telah mengalami stres air dalam beberapa tahun.
Dan di beberapa wilayah arid yang bergantung sepenuhnya pada air untuk
irigasi seperti Cina bagian barat, India, Iran, dan Pakistan, memiliki risiko
konflik akibat air. Ketegangan politik, protes warga
sipil, dan kekerasan juga akan terjadi
terhadap reaksi privatisasi air. Perang Air
Bolivia tahun 2000 adalah salah satu contohnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar