Sabtu, 17 Mei 2014

Krisis air di indonesia



BAB I

PENDAHULUAN


1.1.            Latar Belakang

 Beberapa waktu yang lalu  semua media di tanah air gencar memberitakan krisis air bersih yang meluas di sejumlah daerah. Kemarau telah membuat sebagian wilayah Indonesia dilanda kekeringan, yang kemudian berdampak krisis air. Diberitakan, apabila sampai awal Oktober belum juga turun hujan, enam dari                          16 waduk utama di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi terancam kekeringan. Di daerah lain puluhan juta orang terutama kaum wanita harus berjalan kaki di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan air kotor yang akan meracuni mereka serta keluarga mereka.
Dewasa ini air merupakan salah satu sumber alam yang mulai terasa pengaruhnya pada usaha memperluas kegiatan pertanian dan industri di berbagai tempat di dunia.  Selain itu timbul beberapa masalah yang berhubungan dengan air seperti banjir, erosi, kekeringan dan pencemaran lingkungan yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup manusia.
Secara alamiah sumber-sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan yang mempunyai daya regenerasi yaitu yang selalu dalam sirkulasi dan lahir kembali mengikuti suatu daur hidrologi. Jadi air dari sumbernya mengalir ke laut. Air selalu berada dalam daur hidrologi sehingga relatif jumlahnya tetap. Namun pada kenyataan yang terjadi krisis air di mana-mana karena ketersedian air terbatas, mengapa demikian?
Penduduk yang terus berkembang dan kemakmuran yang meningkat menimbulkan tekanan pada ketersedian air setempat. Pesatnya pertumbuhan penduduk kota membawa konsekuensi makin beratnya beban negara dalam menyediakan berbagai kebutuhan sosial dasar penduduk. Salah satu di antaranya adalah kebutuhan air bersih dan sanitasi. Banyak negara di dunia, terutama negara berkembang, tidak mampu menyediakan kebutuhan hidup paling hakiki tersebut. Saat ini terdapat 827,6 juta orang tinggal di kawasan kumuh tanpa akses air minum dan sanitasi yang memadai. Kondisi buruk ini memicu berjangkitnya berbagai macam penyakit.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melaju cukup signifikan tidak dibarengi dengan daya dukung lingkungan. Berbagai masalah seperti perubahan iklim hingga kerusakan lingkungan yang membahayakan ekosistem dapat berimbas pada terjadinya krisis air dan pangan. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraeni, dalam rapat regional pengelolaan lingkungan hidup daerah wilayah barat Indonesia di Hotel Kapuas Palace, Pontianak, Kamis 7 Maret 2013.
"Di beberapa negara, karena minimnya lahan pertanian dan sedikitnya pangan, pada 2025 diperkirakan terjadi krisis air, karena sulit didapat air bersih untuk minum. Perubahan iklim yang ekstrem akan mulai terasa akibat dari ketidakseimbangan lingkungan," kata Diah.
Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, indeks kualitas lingkungan hidup di Indonesia baru mencapai 61,07 persen ada 2010. Jumlah ini masih di bawah indeks kualitas lingkungan hidup dunia yang mencapai 80-90 persen pada 2010.
Untuk mengejar ketertinggalan itu, menurut Diah, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan lingkungan hidup, baik peraturan perundangan-undangan maupun lainnya.. Ketentuan itu menegaskan bahwa pengendalian lingkungan hidup merupakan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi, dan kabupaten/kota.
Dapatlah dimengerti bahwa air merupakan benda alam yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan sehingga setiap usaha untuk mengatasi masalah air dan peningkatan pendayagunaan sumber alam seperti sumber air diperlukan penelitian-penelitian yang mendalam dan terintegrasi dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan memerlukan keputusan atau perencanaan yang lebih mantap
Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan Penulisan Kajian Literatur Pengelolaan Air Demi Kelestarian Sumberdaya Air Guna Menghindari Krisis Air di Indonesia.

BAB II

DASAR TEORI


2.1. Sumber Air

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia.  Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi dan aktivitas lingkungan . sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air tawar.
97% air di bumi adalah air asin, dan hanya 3% berupa air tawar yang lebih dari 2 per tiga bagiannya berada dalam bentuk es di glasier dan es kutub. Air tawar yang tidak membeku dapat ditemukan terutama di dalam tanah berupa air tanah dan hanya sebagian kecil berada di atas permukaan tanah dan di udara.
Air tawar adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersih terus berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai. di beberapa bagian di dunia dan populasi dunia terus meningkat yang mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih. Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.
Air permukaan adalah air yang terdapat di sungai, danau, atau rawa air tawar. Air permukaan secara alami dapat tergantikan dengan presipitasi dan secara alami menghilang akibat aliran menuju lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.
Meski satu-satunya sumber alami bagi perairan permukaan hanya presipitasi dalam area tangkapan air, total kuantitas air dalam sistem dalam suatu waktu bergantung pada banyak faktor. Faktor-faktor tersebut termasuk kapasitas danau, rawa, dan reservoir buatan, permeabilitas tanah di bawah reservoir, karakteristik aliran pada area tangkapan air, ketepatan waktu presipitasi dan rata-rata evaporasi setempat. Semua faktor tersebut juga memengaruhi besarnya air yang menghilang dari aliran permukaan.
Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan kadang-kadang menghancurkan faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali meningkatkan kapasitas reservoir total dengan melakukan pembangunan reservoir buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan basah. Manusia juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan pembuatan sauran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi .
 


Es yang membeku di kutub dan glasier berpotensi untuk dijadikan sumber air tawar karena dua per tiga air tawar dunia berada dalam bentuk es. Beberapa skema telah diajukan untuk menjadikan gunung es di kutub sebagai sumber air, namun hingga saat ini hal itu hanya sekedar rencana. Aliran glasier saat ini dikatakan sebagai salah satu perairan permukaan.
Himalaya, "Atap Dunia" mengandung glasier dan es dalam jumlah besar di luar wilayah kutub, dan menjadi sumber dari sepuluh sungai besar di Asia yang menghidupi miliaran manusia. Masalah yang terjadi saat ini adalah peningkatan temperatur dunia yang cukup cepat, Nepal saat ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,6 derajat Celcius sejak sepuluh tahun lalu, sementara dunia mengalami peningkatan sebesar 0,7 sejak ratusan tahun yang lalu.

2.2.  Kuantitas Air
Kuantitas total dari air yang tersedia pada suatu waktu adalah hal yang penting. Sebagian manusia membutuhkan air pada saat-saat tertentu saja. Misalnya petani membutuhkan banyak air ketika akan menanam padi dan membutuhkan lebih sedikit air ketika menanam palawija. Untuk mensuplai petani dengan air, sistem air permukaan membutuhkan kapasitas penyimpanan yang besar untuk mengumpulkan air sepanjang tahun dan melepaskannya pada suatu waktu tertentu. Sedangkan penggunaan air lainnya membutuhkan air sepanjang waktu, misalnya pembangkit listrik yang membutuhkan air untuk pendinginan, atau pembangkit listrik tenaga air. Untuk mensuplainya, sistem perairan permukaan harus terisi ketika aliran arus rata-rata lebih rendah dari kebutuhan pembangkit listrik.
Perairan permukaan alami dapat ditambahkan dengan mengambil air permukaan dari area tangkapan hujan lainnya dengan kanal atau sistem perpipaan. Dapat juga ditambahkan secara buatan dengan cara lainnya, namun biasanya jumlahnya diabaikan karena terlalu kecil.
Manusia dapat menyebabkan hilangnya sumber air permukaan dengan menjadikannya tidak lagi berguna, misalnya dengan cara polusi. Brazil adalah negara yang diperkirakan memiliki suplai air tawar terbesar di dunia, diikuti oleh Rusia, Kanada, dan Indonesia.
Total volum air yang dialirkan dari daratan menuju lautan dapat berupa kombinasi aliran air yang dapat terlihat dan aliran yang cukup besar di bawah permukaan melalui bebatuan dan lapisan bawah tanah yang disebut dengan zona hiporeik (hyporheic zone). Untuk beberapa sungai di lembah-lembah yang besar, komponen aliran yang "tidak terlihat" mungkin cukup besar dan melebihi aliran permukaan. Zona hiporeik seringkali membentuk hubungan dinamis antara perairan permukaan dengan perairan subpermukaan dengan saling memberi ketika salah satu bagian kekurangan air. Hal ini terutama terjadi di area karst di mana lubang tempat terbentuknya hubungan antara sungai bawah tanah dan sungai permukaan cukup banyak.

2.3.  Siklus Air
Daur hidrologi sering juga dipakai istilah water cycle atau siklus air. Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke atmosfer, dari atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti lain siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.


Gambar 2. Siklus Air

Air naik ke udara dari permukaan laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam bentuk uap air atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan dipanaskan oleh radiasi tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga cukup tinggi/dingin untuk terjadi kondensasi.
Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut melengkapi siklus air.
Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Sebagian dari air tanah dihisap oleh tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan sebagainya (surface detention), ada juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut ( surface run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu:
1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZbdhFZVFQrfy7HsxtpJRjJQdpShyphenhyphen6iGmuXEQJnk8Dtc4PhvZ5YwYKhVM3weqq6LzxgU3Q1l7O6LeJcWzxLL9AVgQeqPbxCMLIzRyV8mxsG6ZIg_qzdhonQWZM7YZctB_5_3haKNl-kqct/s400/1.jpg
Gambar 3 Siklus Air Pendek

2. Siklus Sedang : Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7brP8p_O6I3dwqo5P6ILodmWn0X01DvVyfwKyGcaYT1dHfJ21JqQNEUk0cRInB1Rp0bAkgvMuqNRc4FxE8xApd8YZ_3iaeY4feEbua08XKNgkt05npfPkOLG3YvTraWOizSZRqhaMm1CA/s400/2.jpg

Gambar 4. Siklus Air Panjang

3. Siklus Panjang : Air laut menguap, setelah menjadi awan melalui proses kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkah-bongkah es mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai-sungai kembali ke laut.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiKvv74uHO8Sy4teyVNnCPGrAfO0IgMvlXavCuy_xoTNPRxuvDwVOLtNZWALwHnByQIxdMJ6j0AfB_-wZIwMbwHOwOwqz71QDWBfROQVCjy8Pe-0nx9Art9xeFl1F3mFOAzQY61eBPVMTs/s400/3.jpg
Gambar 5. Siklus Air
Unsur-unsur utama dalam siklus hidrologi :
Evaporasi: penguapan dari badan air secara langsung
Transpirasi: penguapan air yang terkandung dalam tumbuhan
Respirasi: penguapan air dari tubuh hewan dan manusia
Evapotranspirasi: perpaduan evaporasi dan transpirasi
Kondensasi: proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
Presipitasi: segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
Infiltrasi: air yang jatuh ke permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
Perkolasi: air yang meresap terus sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater
Run off: air yang mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut.

2.4.   Penggunaan Air
Kebutuhan manusia akan sumberdaya air menjadi sangat nyata bila dikaitkan dengan 4 hal yaitu (1) pertambahan penduduk, (2) kebutuhan pangan, (3) peningkatan industrialisasi dan (4) perlindungan ekosistem terhadap teknologi.
Diketahui bahwa jumlah air di bumi tetap. Perubahannya hanya dalam bentuk dalam mengikuti siklus hidrologi yang berputar sepanjang masa (air di daratan – air laut – uap air – hujan). Padahal penduduk dunia selalu bertambah dan kehidupannya semakin maju pula, sehingga pemakaian air semakin bertambah banyak. Penduduk yang berkembang cepat, cepat pula memerosotkan persedian air per kapita per tahun. Lebih lebih kalau perkembangan itu terjadi di tempat sumber airnya kecil seperti Pulau Jawa
Air yang ketersediannya terbatas pada umumnya digunakan manusia untuk (1) keperluan domestik, (2) pertanian, (3) industry, (4) perikanan, (5) pembangkit listrik tenaga air, (6) navigasi dan (7) rekreasi.

2.5.   Beberapa Kasus Krisis Air di Indonesia
Warga konsumsi sisa air sungai, kekeringan akibat kemarau panjang, mulai dirasakan warga di sejumlah daerah. Akibat kemarau panjang, warga di Tegal, Jawa Tengah, terpaksa mengkonsumsi sisa air sungai yang keruh. Bahkan untuk mendapatkan air tersebut, warga harus menempuh jarak puluhan kilometer.
Kemarau yang berkepanjangan membuat krisis air terus meluas. Di Situbondo, Jawa Timur, warga disalah satu kampung di daerah ini terpaksa harus mengkonsumsi air sungai yang keruh dan mengandung belerang. Kondisi ini sangat memprihatinkan akibat sumur mereka satu-satunya mengering dan mulai tercemar.
Kekeringan yang melanda disejumlah wilayah akibat kemarau panjang hingga Selasa terus meluas. Bahkan ratusan warga di Cibabat kota Cimahi, Jawa Barat harus berjuang mengantri sejak pagi hingga malam hari hanya untuk mendapatkan jatah 5 ember air yang bersumber dari jetpam bantuan pemerintah setempat.
Di Bondowoso, Jawa Timur krisis air bersih paling dirasakan warga yang tinggal didaerah pegunungan. Bukan cuma sulit untuk kebutuhan sehari-hari, lahan tanaman dan ternak mereka pun ikut menderita.
Kemarau panjang menyebabkan debit air di waduk Juanda Jaliluhur Purwakarta Jawa Barat menyusut hingga dibawah normal. Kondisi ini membuat pengelola waduk Jatiluhur mengalami kesulitan untuk membagikan air bagi para petani, termasuk kiriman untuk air baku minum di Jakarta.
 

Gambar 6  dan 7. Krisis Air Di Indonesia
Kekeringan melanda sejumlah daerah. Akibat kemarau panjang warga Banyumas terpaksa berebut air untuk keperluan sehari-hari. Sementara warga Nganjuk terpaksa memakai air di sawah untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah semakin parah. Warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih, karena dalam tiga hari terakhir seluruh sumber air sudah kering. Bantuan air bersih pun menjadi rebutan warga.
2.6.  Krisis Air
Pengelolaan sumber daya air telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pasal 2 undang-undang itu menegaskan bahwa sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas. Selanjutnya, Pasal 4 dan 5 menegaskan bahwa sumber daya air memiliki fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup yang sehat, bersih, dan produktif.
Namun, seiring dengan bergulirnya era reformasi dan otonomi daerah, makin banyak pihak yang berpikiran pragmatis dalam mengelola sumber daya air di daerah. Saat ini telah muncul banyak gugatan terhadap pengelolaan sumber air yang sudah berlangsung ratusan tahun dan ujung-ujungnya adalah tuntutan pembagian uang. Kondisi seperti ini harus disikapi dengan serius, terutama bagi daerah yang secara alami tidak memiliki sumber daya air di wilayah sendiri.
Konflik kepentingan pengelolaan sumber daya air akan selalu terjadi di berbagai sektor kehidupan, antara lain sektor pertanian, air bersih/air minum, industri, serta keperluan rumah tangga. Pengambilan air untuk pemenuhan air bersih perkotaan dari sumber air yang semula untuk pertanian sangat berpotensi menimbulkan konflik.
Apalagi jika pengurangan debit itu menurunkan indeks pertanaman (cropping index) dan mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu, pemanfaatan air dengan prinsip berbagi air secara proporsional (proportional water sharing) harus dilakukan sejak dini. Dalam prinsip ini, pengelolaan air memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk, kontribusi sektor pertanian, industri, air minum, air untuk kepentingan sanitasi, serta potensi lestari sumber daya air.
Pemenuhan air bersih dan sanitasi merupakan domain negara/pemerintah. Pada umumnya kota-kota besar di Indonesia saat ini terlihat kedodoran dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi warganya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, saat ini baru mampu memasok 62 persen dari kebutuhan yang ada. Dari angka 62 persen itu pun banyak yang belum memenuhi standar pelayanan minimal.

2.6. Penyebab Krisis Air

1.      Stres Air

Konsep stres air dan krisis air sesungguhnya sangatlah sederhana. Menurut World Business Council for Sustainable Development, hal ini adalah situasi di mana tidak cukup air untuk semua kebutuhan, baik itu untuk pertanian, industri, atau yang lainnya. Mendefinisikan masalah ini dalam bentuk per kapita lebih rumit, namun mendatangkan asumsi yang lebih baik untuk penggunaan air dan penghematannya. Namun telah diperkirakan bahwa ketika ketersediaan air yang dapat diperbarui di bawah 1.700 meter kubik per kapita per tahun, maka negara tersebut akan mengalami stres air secara periodik, di bawah 1.000 maka kelangkaan air akan terjadi dan merintangi pertumbuhan ekonomi dan kesehatan manusia.

2.      Peningkatan Populasi

Pada tahun 2000, dunia berpopulasi 6,2 miliar. PBB memperkirakan bahwa pada tahun 2050, dunia akan mendapatkan tambahan penduduk sekitar 3,5 miliar dengan pertumbuhan terbesar ada di negara-negara berkembang yang telah mengalami stres air. Hal itu akan menyebabkan peningkatan permintaan air kecuali negara melakukan konservasi air dan mendaur ulang sumber daya yang vital ini.

3.      Peningkatan Kesejahteraan

Tingkat kesejahteraan terus meningkat terutama di negara dengan dua populasi terbanyak di dunia, yaitu Cina dan India. Namun, peningkatan kesejahteraan ini berarti juga peningkatan penggunaan air: air bersih untuk kebutuhan dasar dan sanitasi, berkebun dan membersihkan kendaraan, kolam renang pribadi, dan sebagainya.

4.      Ekspansi Bisnis

Aktivitas bisnis berkisar dari industri hingga jasa seperti pariwisata dan hiburan terus berkembang dengan cepat. Ekspansi ini membutuhkan peningkatan pelayanan terhadap kebutuhan air seperti suplai dan sanitasi, yang memicu tekanan terhadap sumber daya air dan ekosistem alam.

5.   Perubahan Iklim

Perubahan iklim dapat memberikan efek yang signifikan terhadap sumber daya air di seluruh dunia karena hubungan yang erat antara iklim dan daur hidrologi. Peningkatan temperatur akan meningkatkan penguapan dan memicu peningkatan presipitasi. Secara keseluruhan akan terjadi peningkatan suplai air tawar dunia. Banjir dan kekeringan akan terjadi lebih sering di beberapa wilayah dalam waktu yang berbeda-beda, akan terjadi perubahan yang drastis pada hujan salju dan proses pelelehan salju di pegunungan akan meningkat. Temperatur yang meningkat juga akan memengaruhi kualitas air, namun belum dipahami dengan baik. Dampak yang paling mungkin adalah eutrofikasi, yaitu peningkatan populasi tumbuhan air (alga, eceng gondok, dll) secara cepat. Perubahan iklim juga akan meningkatkan permintaan suplai air untuk irigasi, dan mungkin air untuk kolam renang.

6.   Hilangnya Aquifer

Akibat dari meningkatnya populasi manusia, kompetisi untuk mendapatkan air meningkat sehingga banyak aquifer di seluruh dunia menjadi habis. Hal ini terjadi akibat konsumsi langsung manusia seperti irigasi pertanian menggunakan air tanah. Jutaan pompa di seluruh dunia dalam berbagai ukuran saat ini sedang mengambil air tanah. Irigasi di wilayah kering seperti di utara Cina dan India disuplai oleh air tanah, dan diambil dalam jumlah yang tidak semestinya. Kota-kota besar juga telah mengalami kehilangan lapisan aquifer dan mengakibatkan lapisan tanahnya turun antara 10 hingga 50 meter seperti yang terjadi di Mexico City, Bangkok, Manila, Beijing, Madras, Jakarta dan Shanghai.

7.         Polusi dan Proteksi Air

Polusi air adalah satu dari sekian kekhawatiran utama dunia saat ini. Pemerintahan di berbagai negara telah berusaha mencari solusi untuk mengurangi masalah ini. Banyak polutan mengancam suplai air, dan di banyak tempat terutama di negara yang belum berkembang, hal ini disebabkan pembuangan limbah secara langsung ke perairan alam. Metode ini umum terjadi di negara yang belum berkembang, namun juga banyak terjadi di negara yang sedang berkembang seperti Cina, India, dan Iran.
Sampah, limbah, dan bahkan polutan beracun dibuang ke perairan. Meski limbah tersebut diolah terlebih dahulu, masalah tetap ada. Sisa olahan limbah berbentuk lumpur mungkin akan ditempatkan di lahan pembuangan sampah, dibakar di insinerator, atau dibuang ke laut. Sumber polutan lainnya seperti air sisa irigasi yang mengandung berbagai macam pupuk kimia dan bahan organik tanaman pertanian juga mengancam ekosistem perairan, bersama dengan aliran air hujan di perkotaan dan limbah kimia yang dibuang oleh industri.

8.      Konflik Perebutan Air

Satu-satunya konflik yang tercatat terjadi akibat perebutan air terjadi pada tahun 2500 SM antara wilayah Lagash dan Umma di Sumeria. Ketika kelangkaan air menyebabkan ketegangan politik, hal ini dapat dikatakan sebagai stres air. Stres air telah memicu konflik lokal dan regional.
Stres air juga dapat menyebabkan konflik dan ketegangan politik meski penyebabnya bukan secara langsung disebabkan oleh air. Reduksi secara bertahap terhadap kualitas dan kuantitas air tawar dapat menambah ketidakstabilan suatu wilayah dengan berkurangnya kesehatan suatu populasi, menghalangi pertumbuhan ekonomi, dan dapat menyebabkan konfik yang lebih besar.
Konflik dan ketegangan terhadap air seringkali terjadi di perbatasan antar negara. Di beberapa area seperti wilayah dataran rendah Sungai Kuning di Cina atau Sungai Chao Phraya di Thailand telah mengalami stres air dalam beberapa tahun. Dan di beberapa wilayah arid yang bergantung sepenuhnya pada air untuk irigasi seperti Cina bagian barat, India, Iran, dan Pakistan, memiliki risiko konflik akibat air. Ketegangan politik, protes warga sipil, dan kekerasan juga akan terjadi terhadap reaksi privatisasi air. Perang Air Bolivia tahun 2000 adalah salah satu contohnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar